Rabu, 18 April 2012

SIRUP KULIT KAYU MANIS


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kayu manis adalah salah satu rempah yang biasa dimanfaatkan masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai bumbu penyedap masakan dan pembuatan kue, kayu manis sejak dulu dikenal memiliki berbagai khasiat. Bahkan, kayu manis saat ini sudah menjadi bagian dari bahan baku dalam industri jamu dan kosmetika.Kayu manis yang nama latinnya adalah   Cinnamomum burmani  memang memiliki efek farmakologis yang dibutuhkan dalam obat-obatan. Tumbuhan yang kulit batang, daun, dan akarnya bisa dimanfaatkan sebagai obat-obatan ini berkhasiat sebagai  , peluruh keringat (diaphoretic), antirematik, meningkatkan napsu makan (istomachica), dan menghilangkan sakit (analgesik).
Kandungan kimia ada terdapat dalam kayu manis adalah minyak atsiri, eugenol, safrole, sinamaldehide, tanin, kalsium oksalat, damar, dan zat penyamak. Sifat kimia dari kayu manis adalah pedas, sedikit manis, hangat, dan wangi. Oleh karena manfaat dan kandungan yang cukup banyak dalam kayu manis ini maka baik untuk digunakan sebagai bahan pengolahan sirup.Provinsi Jambi berpotensi dalam pengembangan sirup kayu manis, karena bahan baku kayu manis sangat banyak terdapat  di Kabupaten Kerinci, sehingga apabila dikembangkan  akan menambah pendapatan dan kesejahteraan para petani di Provinsi Jambi.
Berdasarkan uraian di atas kami melakukan praktikum pada mata kuliah Tek. Rempah dan Minyak atsiri membuat sirup dengan menggunakan bahan baku kulit kayu manis.

1.2  Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan sirup kulit kayu manis dan daya terima konsumen terhadap sirup  tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kayu Manis
Kulit manis atau lebih dikenal dengan nama yang kurang tepat kayu manis (Cinnamomum verum, synonym C. zeylanicum) ialah sejenis pohon penghasil rempah-rempah. Termasuk ke dalam jenis rempah-rempah yang amat beraroma, manis, dan pedas. Orang biasa menggunakan rempah-rempah ke dalam makanan yang dibakar manis, anggur panas.
Kayu manis adalah salah satu bumbu makanan tertua yang digunakan manusia. Bumbu ini digunakan di Mesir Kuno sekitar 5000 tahun yang lalu, dan disebutkan beberapa kali di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama.
Kayu manis juga secara tradisional dijadikan sebagai suplemen untuk berbagai penyakit, dengan dicampur madu, misalnya untuk pengobatan penyakit radang sendi, kulit, jantung, dan perut kembung.
Menurut pakar obat-obatan herbal, Prof Hembing Wijayakusuma, kayu manis memiliki banyak khasiat obat. Di antaranya, obat asam urat, tekanan darah tinggi (hipertensi), radang lambung atau maag (gastritis), tidak napsu makan, sakit kepala (vertigo), masuk angin, perut kembung, diare, muntah-muntah, hernia, susah buang air besar, sariwan, asma, sakit kuning, dan lain-lain.
2.2 Sirup
Sirup (dari Bahasa Arab شراب sharab, minuman) adalah cairan yang kental dan memiliki kadar gula terlarut yang tinggi, namun hampir tidak memiliki kecenderungan untuk mengendapkan kristal. Viskositas (kekentalan) sirup disebabkan oleh banyaknya ikatan hidrogen antara gugus hidroksil (OH) pada molekul gula terlarut dengan molekul air yang melarutkannya. Secara teknik maupun dalam dunia ilmiah, istilah sirup juga sering digunakan untuk menyebut cairan kental, umumnya residu, yang mengandung zat terlarut selain gula.
2.3 Gula
Gula adalah pemanis makanan yang disukai banyak orang. Biasanya gula ditambahkan dalam makanan dan minuman. Meski sama-sama manis, ternyata gula pasir, gula batu, dan gula merah mempunyai dampak yang berbeda bagi tubuh, khususnya pankreas.
Gula pasir adalah jenis gula yang berbentuk butiran kecil seperti pasir. Warnanya putih kecoklatan. Gula jenis ini paling banyak digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Karena bentuknya yang berupa butiran kecil, gula pasir mudah larut dalam makanan dan minuman sehingga mudah digunakan.
2.4 Air
Keadaan air yang berbentuk cair merupakan suatu keadaan yang tidak umum dalam kondisi normal, terlebih lagi dengan memperhatikan hubungan antara hidrida-hidrida lain yang mirip dalam kolom oksigen pada tabel periodik, yang mengisyaratkan bahwa air seharusnya berbentuk gas, sebagaimana hidrogen sulfida. Dengan memperhatikan tabel periodik, terlihat bahwa unsur-unsur yang mengelilingi oksigen adalah nitrogen, flor, dan fosfor, sulfur dan klor. Semua elemen-elemen ini apabila berikatan dengan hidrogen akan menghasilkan gas pada temperatur dan tekanan normal. Alasan mengapa hidrogen berikatan dengan oksigen membentuk fase berkeadaan cair, adalah karena oksigen lebih bersifat elektronegatif ketimbang elemen-elemen lain tersebut (kecuali flor). Tarikan atom oksigen pada elektron-elektron ikatan jauh lebih kuat dari pada yang dilakukan oleh atom hidrogen, meninggalkan jumlah muatan positif pada kedua atom hidrogen, dan jumlah muatan negatif pada atom oksigen. Adanya muatan pada tiap-tiap atom tersebut membuat molekul air memiliki sejumlah momen dipol. Gaya tarik-menarik listrik antar molekul-molekul air akibat adanya dipol ini membuat masing-masing molekul saling berdekatan, membuatnya sulit untuk dipisahkan dan yang pada akhirnya menaikkan titik didih air. Gaya tarik-menarik ini disebut sebagai ikatan hidrogen.

BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis tanggal 12 April 2012 pukul 80.00-10.00 WIB. Di Laboratorium Rekayasa Proses Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jambi.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah timbangan, timbangan analitik, wadah plastic, gelas piala, sendok, hot plate, pisau, dan pena. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kulit kayu manis, air, gula, kertas label, dan plastic.

3.3 Prosedur Kerja
Langkah pertama merendam kulit kayu manis selama 12 jam. Setelah 12 jam kayu manis tersebut dipisahkan dari airnya dilakukan penyaringan kemudian diukur untuk mengetahui volumenya dengan menggunakan gelas piala, selanjutnya menambahkan gula kedalam air kulit kayu manis tersebut sebanyak 60% dari volume air kulit kayu manis tersebut. Langkah berikutnya melarutkan gula dengan cara pemanasan pada hot plate selama 10 menit, setelah cairan terlihat agak mengental dan gula telah larut maka pemanasan dihentikan. Terakhir dilakukan pengujian organoleptik terhadap sirup tersebut untuk mengetahui daya terima sirup.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 1. Hasil rata-rata uji organoleptik sirup kayu manis
Kelompok
Sampel
Pengamatan
Rasa
Aroma
Warna
Hedonic
Kel 1
Kayu manis 8 jam kode (178)
3.3
2.3
1.6
3
Kel 2
Kayu manis 12 jam kode (641)
3.5
2.7
1.9
2.9
Kel 3
Kayu manis 16 jam kode (783)
4
4.2
3.9
4
Keterangan :
Aroma : 5 = sangat khas kayu manis              Rasa :  5 = sangat manis
              4 = khas kayu manis                                      4 = manis
              3 = agak khas kayu manis                             3 = agak manis
              2 = tidak khas kayu manis                            2 = tidak manis
              1 = sangat tidak khas kayu manis                 1 = pahit
Kesukaan :      5 = sangat suka                       warna: 5 = merah
                        4 = suka                                               4 = coklat kemerahan
                        3 = agak suka                                      3 = coklat
                        2 = tidak suka                                     2 = kuning kecoklatan
                        1 = sangat tidak suka                          1 = kuning

4.2 Pembahasan
Dari hasil praktikum yang telah dilaksanakan dapat dilihat bahwa dari ketiga sampel yang di uji dengan perlakuan yang berbeda menghasilkan hasil dan penilaian yang berbeda dari setiap panelis. Adapun perlakuan yang diberikan untuk setiap sampel adalah kulit kayu manis direndam dengan air dalam waktu yang berbeda yaitu untuk sampel kelompok 1 ( kode 178 ) selama 8 jam, sampel kelompok 2 ( kode 641 ) selama 12 jam dan sampel kelompk 3 ( kode 783 ) selama 16 jam. Uji organoleptik yang di nilai yaitu terhadap rasa, aroma, warna dan penerimaan keseluruhan.
Untuk hasil pengamatan rasa, kayu manis yang diberikan perlakuan selama 16 jam menghasilkan rasa yang pmanis dibandingkan dengan kelompok lainnya. Sementara kayu manis yang direndam selama 12 jam dan 8 jam menghasikan rasa yang agak manis. Hal tersebut dapat diketahui melalui pengambilan penilaian oeganoleptik terhadap rasa sirup kulit kayu manis yang di buat. Pengujian ini menggunakan panelsi yang agak terlatih sampai terlatih. Skor yang di berikan para panelis terhadap sampel yang tertinggi adalah 4.
Untuk hasil pengamatan aroma, sirup kulit kayu manis yang di berikan perlakuan perendaman dengan air selama 16 jam menunjukkan aroma khas kau manis dibandingkan dengan sirup yang diberi perlakuan perendaman selama 8 jam dan 12 jam. Skor yang di berikan panelis terhadap sirup kayu manis yang di rendam selama 16 jam ini adalah 4.2.
Untuk hasil pengamatan warna, panelis memberikan skor tertinggi terhadap sampel yang di rendam selama 16 jam yaitu 3.9. sedangkan untuk sampel yang di rendam selama 8 dan 12 jam panelis memberikan skor yaitu 1.6 dan 1.9. warna sirup kulit kayu manis yang di berikan nilai tertinggi adalah berwarna coklat kemerahan.
Untuk uji hedonic atau penerimaan keseluruhan, panelis menyukai sirup kayu manis yang diberikan perlakuan perendaman selama 16 jam. Hal ini dapat terjadi dikarenakan panelis menyukai rasa, warna dan aroma dari sirup yang diberikan perlakuan selama 16 jam. Warna sirup kayu manis ini adalah coklat kemerahan, rasanya manis dan aroma khas kayu manis.



BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpula
Dari hasil praktikum dan pengujian organoleptik terhadap sirup kulit kayu manis dapat di ambil kesimpulan bahwa panelis menyukai sirup yang di buat dari kulit kayu manis  yang direndam dengan air selama 16 jam. Dengan keterangan warna yaitu coklat kemerahan, rasa manis dan aroma khas kayu manis.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil praktikum yang telah kami dapatkan melalui pengujian organoleptik, kami menyarankan kepada siapa saja yang inign membuat sirup dengan bahan baku kulit kayu manis, maka hendaklah di berikan perlakuan perendaman dengan air selama 6 jam sebelum di buat sirup.




DAFTAR PUSTAKA





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar