Kamis, 26 Juli 2012

NANAS : Pengaruh Penambahan Jahe (zingiber officinale. R) Terhadap Sifat Organoleptik Sari Nanas (ananas comosus (l.) Merr) Sebagai Minuman Fungsional


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Dewasa ini, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pengetahuan terhadap berbagai jenis penyakit yang ditimbulkan oleh pola-pola hidup yang tidak seimbang, baik berupa mengkonsumsi makanan yang tercemar, faktor lingkungan ( asap rokok dan polusi udara ), maupun pangan yang mengandung zat-zat kimia yang berbahaya bagi tubuh yang dapat menyebabkan reaksi oksidasi didalam tubuh. Jika oksidasi didalam tubuh terjadi, maka penyakit-penyakit degeneratif seperti kanker, jantung koroner, maupun tumor ganas akan tumbuh dan berkembang di dalam tubuh.
Oleh karena itu, perlu adanya tindakan pencagahan agar tubuh tetap sehat. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan berolah raga, mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang dan mengkonsumsi zat antioksidan yang dapat menangkal reaksi oksidasi di dalam tubuh. Zat antioksidan dapat berupa Vitamin E, Vitamin C maupun senyawa lainnya, seperti fenol. Vitamin C dapat di temukan pada buah-buahan seperti nanas, stroberi, jeruk, dan lain-lain. Pada buah nanas kandungan vitamin C cukup tinggi yaitu mencapai 24 Mg/100 gram bahan.
Di Indonesia, buah nanas dapat ditemukan dengan mudah di pasaran, karena pembudidayaan tanaman nanas sangat banyak, mulai dari daerah dataran rendah sampai dataran tinggi. Maka dari itu, terdapat daerah pengahasil nanas yang terkenal yaitu Subang, Bogor, Riau, Palembang dan Blitar. Di Daerah Jambi, nanas juga sudah banyak dibudidayakan masyarakat, salah satu tempat penghasil nanas di Provinsi Jambi yang terkenal yaitu Desa Tangkit.
Sejauh ini pemanfaatan buah nanas dikalangan masyarakat biasanya diolah menjadi produk seperti selei (Jam) dan dodol. Namun, belum banyak yang memanfaatkan buah nanas untuk dijadikan produk pangan dalam bentuk sari nanas yang dikombinasikan dengan ekstrak jahe.
Pada penelitian ini dilakukan pembuatan sari nanas yang akan dikombinasikan dengan ekstrak jahe, kemudian di kemas dengan kemasan botol. Kombinasi ini diharapkan dapat memberikan efek positif pada kesehatan manusia (konsumen). Jahe ini sendiri di tambahkan dengan maksud untuk memberikan rasa yang unik pada produk yang akan dihasilkan nantinya, karena jahe mengandung oleorosin yang dapat memberikan rasa menyengat.
 Pembuatan produk ini diupayakan untuk mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern dan untuk meningkatkan nilai dari buah nanas itu sendiri. Minuman ini membuat orang dapat dengan praktis minum atau mengkonsumsi minuman yang menyehatkan.
Berdasarkan uraian tersebut, kami melaksanakan penelitian dengan judul “Pengaruh Penambahan Jahe (zingiber officinale. R) Terhadap Sifat Organoleptik Sari Nanas (ananas comosus (l.) Merr) Sebagai Minuman Fungsional”.

1.2 Tujuan Penelitian
            Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi terbaik dan menghasilkan produk pangan yang berasal dari buah nanas dalam bentuk sari nanas yang praktis untuk di konsumsi serta memberikan efek positif bagi konsumen.
1.3 Manfaat Penelitian
            Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat yang inginkan memelihara kesehatan dan kebugaran tubuh dalam bentuk minuman fungsional yang memiliki efek Positif dan citarasa yang disukai masyarakat luas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Nanas
Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) adalah sejenis tumbuhan tropis yang berasal dari Brasil, Bolivia, dan Paraguay. Tumbuhan ini termasuk dalam familia nanas-nanasan (Famili Bromeliaceae). Perawakan (habitus) tumbuhannya rendah, herba (menahun) dengan 30 atau lebih daun yang panjang, berujung tajam, tersusun dalam bentuk roset mengelilingi batang yang tebal. Buahnya dalam bahasa Inggris disebut sebagai pineapple karena bentuknya yang seperti pohon pinus. Nama 'nanas' berasal dari sebutan orang Tupi untuk buah ini: anana, yang bermakna "buah yang sangat baik". Burung penghisap madu (hummingbird) merupakan penyerbuk alamiah dari buah ini, meskipun berbagai serangga juga memiliki peran yang sama.
Kandungan gizi buah Nanas segar (dalam 100 gram bahan)

Kandungan Gizi
Jumlah
1
Kalori
52 kal
2
Protein
0,40 g
3
Lemak
0,20 g
4
Karbohidrat
16 g
5
Fosfor
11 mg
6
Zat Besi
0,30 mg
7
Vitamin A
130 SI
8
Vitamin B1
0.08 mg
9
Vitamin C
24 mg
10
Air
85,3 g
11
Bagian dapat dimakan
53%
(Sumber : Buletin Teknopro Hortikultura Edisi 71 Juli 204. Manfaat Nanas Bagi   Kesehatan)
2.2 Jahe
Jahe yang nama ilmiahnya Zingiber officinale sudah tak asing bagi kita, baik sebagai bumbu dapur maupun obat-obatan. Begitu akrabnya kita, sehingga tiap daerah di Indonesia mempunyai sebutan sendiri-sendiri bagi jahe. Nama-nama daerah bagi jahe tersebut antara lain halia (Aceh), bahing (Batak karo), sipadeh atau sipodeh (Sumatera Barat), Jahi (Lampung), jae (Jawa), Jahe (sunda), jhai (Madura), pese (Bugis) lali (Irian).
Jahe (Zingiber officinale) merupakan salah satu tanaman obat yang telah banyak dibudidayakan oleh para petani Indonesia. Sentra tanaman jahe ini menyebar dari Jawa Barat (Bogor dan Sukabumi), Jawa Tengah (Karanganyar, Wonogiri dan Kabupaten Semarang), Jawa Timur, Sumatera Utara (Simalungun dan Dairi), Bengkulu (Rejang Lebong) dan Lampung (Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Departemen Pertanian 2002).
Jahe tergolong tanaman herba, tegak, dapat mencapai ketinggian 40 – 100 cm dan dapat berumur tahunan. Batangnya berupa batang semu yang tersusun dari helaian daun yang pipih memanjang dengan ujung lancip. Bunganya terdiri dari tandan bunga yang berbentuk kerucut dengan kelopak berwarna putih kekuningan (Sutrisno Koswara dalam Ebookpangan.com).
Tanaman jahe telah lama dikenal dan tumbuh baik di negara kita. Jahe merupakan salah satu rempah-rempah penting. Rimpangnya sangat luas dipakai, antara lain sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biscuit, kembang gula dan berbagai minuman. Jahe juga digunakan dalam industri obat, minyak wangi dan jamu tradisional. Jahe muda dimakan sebagai lalaban, diolah menjadi asinan dan acar. Disamping itu, karene dapat memberi efek rasa panas dalam perut, maka jahe juga digunakan sebagai bahan minuman seperti bandrek, sekoteng dan sirup (Sutrisno Koswara dalam Ebookpangan.com).


2.3 Kandungan Rimpang Jahe
Sifat khas jahe disebabkan adanya minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Mnnyak atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari rhizoma jahe kering. Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai kuning, berbau harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas. Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1 – 3 persen. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol (Sutrisno Koswara dalam Ebookpangan.com).
Oleoresin jahe banyak mengandung komponen pembentuk rasa pedas yang tidak menguap. Komponen dalam oleoresin jahe terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol, minyak atsiri dan resin. Pemberi rasa pedas dalam jahe yang utama adalah zingerol. Aroma jahe disebabkan oleh minyak atsiri sedangkan kandungan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas (Koswara 1995).

2.4 Khasiat Jahe
Sejak dulu Jahe dipergunakan sebagai obat, atau bumbu dapur dan aneka keperluan lainnya. Jahe dapat merangsang kelenjar pencernaan, baik untuk membangkitkan nafsu makan dan pencernaan (Sutrisno Koswara dalam Ebookpangan.com).
Jahe yang digunakan sebagai bumbu masak terutama berkhasiat untuk menambah nafsu makan, memperkuat lambung, dan memperbaiki pencernaan. Hal ini dimungkinkan karena terangsangnya selaput lendir perut besar dan usus oleh minyak asiri yang dikeluarkan rimpang jahe (Sutrisno Koswara dalam Ebookpangan.com).
Minyak jahe berisi gingerol yang berbau harum khas jahe, berkhasiat mencegah dan mengobati mual dan muntah, misalnya karena mabuk kendaraan atau pada wanita yang hamil muda. Juga rasanya yang tajam merangsang nafsu makan, memperkuat otot usus, membantu mengeluarkan gas usus serta membantu fungsi jantung. Dalam pengobatan tradisional Asia, jahe dipakai untuk mengobati selesma, batuk, diare dan penyakit radang sendi tulang seperti artritis. Jahe juga dipakai untuk meningkatkan pembersihan tubuh melalui keringat (Sutrisno Koswara dalam Ebookpangan.com).

2.5 Pangan Fungsional
Menurut The International Food Information Council (IFIC), pangan  fungsional adalah pangan yang memberikan manfaat kesehatan di luar zat-zat gizi dasar (IFIC Foundation, 1998). Menurut Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang, pangan fungsional adalah pangan yang berdasarkan pengetahuan antara pangan atau komponen pangan dan kesehatan, diharapkan memiliki keuntungan dalam kesehatan dan telah dinyatakan bahwa orang yang menggunakan produk tersebut untuk kesehatan akan memperoleh kesehatan (Fardiaz, 2003).
Menurut Woodroof dan Philips (1974), minuman secara umum memiliki fungsi kesehatan karena mengandung senyawa gula (sukrosa, glukosa, fruktosa) yang dapat langsung dirubah menjadi energi, mengandung air yang sangat penting bagi tubuh (pencernaan, mengendalikan suhu tubuh, melumasi sendi, membuang sisa pencernaan, menyerap O2 dan membuang CO2 di jantung). Minuman kesehatan diartikan sebagai minuman yang dapat meningkatkan fungsi fisiologis tubuh seperti menghilangkan stres, menurunkan kandungan kolesterol, meningkatkan system pertahanan tubuh, disamping memiliki rasa dan aroma yang enak (Sampoerna dan Fardiaz, 2001).
Muchtadi (2001) mengatakan bahwa ilmuwan Jepang menekankan pada 3 fungsi dasar pangan fungsional yaitu sensori (warna, penampilan menarik dan citarasa yang enak), nutritional (bergizi tinggi) dan fisiologikal (memberi pengaruh fisiologis bagi tubuh). Beberapa fungsi fisiologis yang diharapkan antara lain pencegah dari timbulnya penyakit, meningkatkan daya tahan tubuh, regulasi kondisi ritme fisik tubuh, memperlambat proses penuaan dan penyehatan kembali (recovery).


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Rekayasa Proses Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jambi dengan waktu penelitian mulai bulan maret sampai juni tahun 2012.­­­­
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah pisau, baskom, talenan, timbangan biasa, timbangan analitik, dandang, blender, gelas ukur, botol, kompor dan seperangkat alat uji organoleptik.
Bahan yang digunakan untuk membuat sari nanas adalah nanas yang berasal dari desa tangkit kab. Muara jambi, Jambi. Jahe yang berasal dari pasar keluarga jambi, air bersih, kertas label dan alumunium foil.
3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Pembuatan Sari Nanas
            Proses pembuatan sari nanas melalui beberapa tahapan, yaitu pertama nanas sebanyak 5 Kg disortasi, bagian buah yang tidak digunakan seperti kulit dan mata nanas dibuang. Selanjutnya nanas tersebut di cuci dengan air yang bersih dan mengalir. Setelah itu di iris dengan ukuran 1 cm, kemudian di blender dan di peras dengan menggunakan kain perasan, setelah di peras sari nanas tersebut dilakukan  penyaringan untuk memisahkan kotoran yang ada pada sari nanas, didapat sari nanas bersih 2 Liter.
3.3.2 Pembuatan Ekstrak Jahe
            Untuk pembuatan ekstrak jahe. Jahe sebanyak 500 gr kemudian di sortasi, bagian yang busuk atau rusak di buang. Jahe tersebut kemudian di kupas dan cuci dengan air yang mengalir dan bersih. Setelah itu, jahe di iris tipis dan selanjutnya di blender, lalu diperas dengan menggunakan kain perasan dan di saring untuk memisahkan kotoran dari ekstrak jahe tersebut, dan di dapat 240 ml ekstrak jahe bersih .
3.3.3 Pembuatan Produk Sari Nanas Fungsional
Sebanyak 250 ml Sari ditambahkan dengan ekstrak jahe sesuai perlakuan, untuk masing-masing perlakuan sebanyak 10 ml, 20 ml, 30 ml, 40 ml dan 50 ml. setelah kombinasi sari nanas tersebut di dapat, selanjutnya di kemas dalam kemasan botol. terakhir di lakukan pasteurisasi selama 30 menit pada suhu 60 oC dan di bungkus dengan kertas alumunium foil kemudian di simpan pada suhu rendah (lemari es).
3.4 rancangan percobaan
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Dengan perlakuan konsentrasi sari nanas (N) dan ekstrak jahe (J). masing-masing perlakuan terdiri dari 5 taraf perlakuan dengan 3 kali pengulangan sehingga didapat 15 satuan percobaan.
Adapun perlakuannya adalah :
P1 = N 250 ml + J 10 ml
P2 = N 250 ml + J 20 ml
P3 = N 250 ml + J 30 ml
P4 = N 250 ml + J 40 ml
P5 = N 250 ml + J 50 ml

3.5 Parameter yang Diamati
            Produk yang sudah jadi di lakukan uji Organoleptik terhadap Warna, Aroma, Rasa dan Penerimaan keseluruhan.

3.6 Analisis Data
            Data hasil pengamatan dilakukan analisis Varian dan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 1% dan 5%.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Skor Warna
            Analisa ragam (lamipran 4) menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak jahe tidak berpengaruh terhadap minuman sari nanas. Skor warna minuman sari nanas menurut perlakuan konsentrasi eksrak jahe dapat dilihat pada table 1.
Table 1. skor warna minuman sari nanas menurut perlakuan konsentrasi ekstrak jahe
Perlakuan
Rata-rata
p1
1,53
P2
1,93
P3
2,6
P4
2,2
P5
1,93

Keterangan : 1 = kuning, 2 = sangat kuning, 3 = agak orange, 4 = orange, 5 = sangat orange

            Pada table 1 dapat dilihat bahwa skor warna minuman sari nanas yang dihasilkan berkisar antara 1.53 – 2.6. skor warna minuman sari nanas tertinggi terdapat pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak jahe 30 ml sebesar 2.6 yaitu agak orange dan skor warna minuman sari nanas terendah terdapat pada perlakuan dengan konsentrasi 10 ml sebesar 1.53 yaitu sangat kuning.
            Semakin tinggi konsentrasi ekstrak jahe, maka warna minuman sari nanas yang dihasilkan semakin orange. Hal ini disebabkan karena semakin banyak ekstrak jahe yang ditambahkan maka warna cokelat dari ekstrak jahe ikut mempengaruhi warna minuman sari nanas sehingga menurunkan intensitas warna minuman sari nanas.


4.2 Skor Aroma
            Analisa ragam (lampiran 5) menunjukan bahwa konsentrasi ekstrak jahe tidak berpengaruh terhadap skor aroma minuman sari nanas. Skor aroma minuman sari nanas menurut perlakuan konsentrasi ekstrak jahe dapat dilahat pada table 2.
Table 2. Skor aroma minuman sari nanas menurut perlakuan konsentrasi ekstrak jahe.
perlakuan
Rata-rata
P1
3,06
P2
2,4
P3
3,2
P4
2,86
p5
3,33

Keterangan : 1 = khas nanas, 2 = agak khas nanas, 3 = agak khas jahe, 4 = khas jahe, 5 = sangat khas jahe

            Pada table 2 dapat dilihat bahwa skor aroma minuman sari nanas berkisar antara 2.4 – 3.33. skor aroma tertinggi terdapat pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak jahe 50 ml sebesar 3.33 yaitu beraroma agak khas jahe, dan skor aroma terendah terdapat pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak jahe 20 ml sebesar 2.4 yaitu beraroma agak khas nanas.
            Semakin tinggi konsentrasi ekstrak jahe maka aroma minuman sari nanas cenderung khas jahe. Hal ini disebabakan karena semakin banyak konsentrasi ekstrak jahe yang ditambahkan maka aroma khas jahe ikut mempengaruhi aroma khas minuman sari nanas.


4.3 Skor Rasa
            Analisa ragam (lampiran 6) menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak jahe tidak berpengaruh terhadap skor rasa minuman sari nanas. Skor rasa minuman sari nanas menurut perlakuan konsentrasi ekstrak jahe dapat dilihat pada table 3.
Table 3. skor rasa minuman sari nanas menurut perlakuan konsentrasi ekstrak jahe
Perlakuan
Rata-rata
P1
3,53
P2
3,46
P3
2,93
P4
4
p5
4,4

Keterangan : 1 = asam, 2 = agak asam, 3 = manis, 4 = agak pedas, 5 = pedas


            Pada table 3 dapat dilihat bahwa skor rasa minuman sari nanas yang dihasilkan berkisar 2.93 – 4.4. skor rasa tertinggi terdapat pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak jahe 50 ml sebesar 4.4 yaitu berasa agak pedas dan skor terendah terdapat pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak jahe 30 ml sebesar 2.93  yaitu berasa manis. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak jahe yang ditambahkan maka rasa minuman sari nanas akan berasa pedas.

4.4 Skor Hedonik
Analisa ragam (lampiran 7) menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak jahe tidak berpengaruh terhadap skor penerimaan keseluruhan minuman sari nanas. Skor penerimaan keseluruhan minuman sari nanas menurut perlakuan konsentrasi ekstrak jahe dapat dilihat pada table 4.
Table 4. skor hedonic minuman sari nanas menurut perlakuan konsentrasi ekstrak jahe.
Perlakuan
Rata-rata
P1
2,93
P2
3,53
P3
2,93
P4
2,85
p5
2,13

Keterangan : 1 = sangat tidak suka, 2 = tidak  suka, 3 = agak suka, 4 = suka, 5 = sangat suka

            Pada tabel 4 dapat dilihat bahwa skor hedonik minuman sari nanas yang dihasilkan berkisar 2.13 – 4.33. skor hedonik tertinggi terdapat pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak jahe 20 ml sebesar 3.53 yaitu disukai panelis dan skor terendah terdapat pada perlakuan dengan konsentrasi ekstrak jahe 50 ml sebesar 2.13 yaitu tidak disukai panelis.
Penerimaan panelis terhadap sari nanas dengan penambahan ekstrak jahe 20 ml ini di karenakan rasa yang di hasilkan adalah agak pedas, beraroma nanas dan berwarna kuning.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil Penelitian yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa dari uji hedonik (penerimaan keseluruhan) perlakuan yang di sukai oleh panelis yaitu perlakuan sari nanas  dengan penambahan konsentrasi ekstrak jahe sebanyak 20 ml, yang menghasilkan warna sangat kuning, beraroma agak khas jahe dan rasa agak pedas.


DAFTAR PUSTAKA

Buletin Teknopro Hortikultura Edisi 71 Juli 204. Manfaat Nanas Bagi   Kesehatan
Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Departemen Pertanian 2002.
Koswara, S. 1995. Jahe dan Hasil Olahannya. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta
Koswara, S. Jahe, rimpang dengan sejuta khasiat. Di dalam Ebookpangan.com
Fardiaz, D. 2003. Peraturan dalam pangan fungsional dan pangan suplemen. Makalah Seminar International Functional Foods and Nutracuticals Based on Marine Products. Di dalam skripsi nuzul wahyuni.
Woodroof, J. G. dan G. F. Phillips. 1974. Beverages Carbonated and Noncarbonated. The AVI Publishing Company Inc., Westport, Connecticut. Di dalam skripsi nuzul wahyuni.
Sampoerna dan Dedi F. 2001. Kebijakan pengembangan pangan fungsional dan suplemen Indonesia. Prosiding Seminar Nasional. Pusat Kajian Makanan Tradisional, Bogor. Di dalam skripsi nuzul wahyuni.
Muchtadi. 2001. Potensi Pangan Tradisional sebagai Pangan Fungsional dan Suplemen. Dalam: L. Nuraida dan R. D. Hariyadi (editor). Pangan Tradisional. Pusat Kajian Makanan Tradisional. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Di dalam skripsi nuzul wahyuni.
Hartomo, A. J. dan M. C. Widiatmoko. 1992. Emulsi dan Pangan Ber-Lesitin. Andi Offset, Yogyakarta. Di dalam skripsi nuzul wahyuni.
Glicksman, M. 1986. Food Hydrocolloids vol. II. CRC Press, Inc., Boca Raton, Florida. Di dalam skripsi nuzul wahyuni.
Verral, R. P. 1984. Powdered Soft Drink Mixes. Dalam: Houghton, H. W. (Editor). Developments in Soft Drinks Technology-3. Elseiver Applied Science Publishers, London dan New York. Di dalam skripsi nuzul wahyuni.


Lampiran 4 : Data Dan Analisis Ragam Organoleptik Warna Sari Nanas

panelis
Sampel
total
371
586
293
417
108
1
2
2
4
3
3
14
2
3
2
3
3
1
12
3
3
1
2
1
3
10
4
1
2
3
2
3
11
5
1
1
2
2
3
9
6
1
4
2
4
3
14
7
2
4
5
3
1
15
8
1
2
2
2
1
8
9
1
2
2
2
1
8
10
3
3
5
4
1
16
11
1
1
2
1
3
8
12
1
1
2
1
1
6
13
1
1
2
1
1
6
14
1
1
1
2
3
8
15
1
2
2
2
1
8
jumlah
23
29
39
33
29
153
rata-rata
1.53
1.93
2.60
2.20
1.93

FK = 312.12

Analisi Ragam





Ftabel
SK
db
JK
KT
Fhit
1%
5%
Perlakuan
4
9.28
2.32
2.57
4.56
2.9
Panelis
14
30.08
2.15



Galat
56
50.52
0.90



Total
74
89.88







Lampiran 5 : Data Dan Analisis Ragam Organoleptik Aroma Sari Nanas

Panelis
sampel
total
371
586
293
417
108
1
4
3
4
2
3
16
2
4
3
4
3
3
17
3
3
3
1
4
2
13
4
1
2
2
4
5
14
5
2
3
4
3
5
17
6
4
3
4
2
3
16
7
3
1
4
3
3
14
8
1
1
3
3
4
12
9
3
2
3
2
4
14
10
4
2
3
4
3
16
11
4
2
3
4
5
18
12
3
3
3
2
2
13
13
3
3
3
2
2
13
14
3
2
3
2
3
13
15
4
3
4
3
3
17
Jumlah
46
36
48
43
50
223
rata-rata
3.07
2.40
3.20
2.87
3.33

FK = 663.05

Analisi Ragam





Ftabel
SK
db
JK
KT
Fhit
1%
5%
perlakuan
4
7.95
1.98
2.76
4.56
2.9
Panelis
14
10.35
0.74



Galat
56
40.65
0.72



Total
74
58.95







Lampiran 6 : Data Dan Analisis Ragam Organoleptik Rasa Sari Nanas

Panelis
sampel
total
371
586
293
417
108
1
3
4
4
4
5
20
2
4
4
4
4
3
19
3
4
4
5
5
5
23
4
2
4
1
4
5
16
5
3
4
2
5
5
19
6
4
4
4
5
5
22
7
3
3
4
2
5
17
8
4
2
5
5
5
21
9
4
3
5
4
5
21
10
2
2
2
4
4
14
11
2
2
1
4
5
14
12
5
4
2
4
4
19
13
5
4
2
4
4
19
14
4
4
1
2
2
13
15
4
4
2
4
4
18
Jumlah
53
52
44
60
66
275
rata-rata
3.53
3.47
2.93
4.00
4.40

FK = 1008.33

Analisis Ragam





Ftabel
SK
db
JK
KT
Fhit
1%
5%
perlakuan
4
18.67
4.6675
0.22
4.56
2.9
Panelis
14
25.47
1.82



Galat
56
1169.53
20.88



Total
74
1213.67







Lampiran 7 : Data Dan Analisis Ragam Organoleptik Hedonik Nanas

Panelis
sampel
total
371
586
293
417
108
1
3
4
3
3
2
15
2
3
4
3
3
2
15
3
5
4
4
3
2
18
4
1
2
1
3
2
9
5
3
4
2
3
3
15
6
3
4
4
4
2
17
7
4
4
2
3
1
14
8
3
4
3
3
2
15
9
3
4
3
3
2
15
10
4
3
4
2
2
15
11
2
3
2
2
1
10
12
2
3
3
2
2
12
13
2
3
3
2
2
12
14
3
3
4
4
5
19
15
3
4
3
3
2
15
Jumlah
44
53
44
43
32
216
rata-rata
2.93
3.53
2.93
2.87
2.13

FK = 622.08

Analisis Ragam





Ftabel
SK
db
JK
KT
Fhit
1%
5%
Perlakuan
4
14.85
3.71
0.17
4.56
2.9
Panelis
14
20.72
1.48



Galat
56
1208.95
21.59



Total
74
1244.52





 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar